Bridget Jones’s Baby

Semalam nonton Bridget Jones’s Baby dengan niatan nostalgia sama seperti menonton AADC2 hehehe. Surprisingly filmnya menyenangkan sekali! Ceritanya sih standarlah ala ala romcom, lengkap dengan kebodohan-kebodohan nan kocak yang dilakukan tokoh utama.

Di seri yang kali ini, ceritanya Bridget mendapati dirinya hamil. Masalahnya: siapa bapaknya???!!! Hahaha. As always dia ceroboh having sex dengan selang kurang dari dua minggu saja dengan dua lelaki yang berbeda. Udah gitu, kedua partnernya, alamaaaakk bikin meleleh. *tapi teteup gak kebayang sih kalo itu kejadian di hidup nyata eug 😛

Yang satu adalah mantannya yang masih memesonakan Bridget, Mark Darcy yang masih diperankan oleh Colin Firth. Satunya lagi adalah si ganteng dari Amerika, Jack yang kali ini Patrick Dempsey didapuk jadi pemerannya. Intinya, menentukan siapa Bapaknya dengan segala persaingan di antara keduanya untuk terlihat menjadi calon bapak terbaik di mata Bridget.

bridget-jones-online-image1

Seperti yang sudah-sudah, ada hal yang bisa kita amini dari sebuah film. Dari film ini, eug jadi paham bahwa kembali ke mantan tidak selalu indah. Hilbram Dunar pernah bilang, ya nggak ada yang baru aja kalau kembali yang lama. Terlebih jika yang baru bisa memberikan warna yang baru. Walaupun yang namanya rasa ya nggak bisa bohong apalagi kalau yang lama menanamkan kenangan indah. *halah

Ada satu cuplikan dialog yang diucapkan oleh bapaknya Bridget, “Kejujuran tidak pernah salah”. Benar sekali. Sepahit apapun itu, just go ahead. White lie is not much better. Hanya perlu memilih waktu yang tepat untuk mengatakannya.

All I can say is romantic comedy (romcom) never failed me! Begitupun dengan yang eug rasakan menonton film ini; excited, super happy, dan merasa terhibur sekali. Kebanyakan sih yang nonton emang seumuran eug atau lebih. Banyak juga pasangan suami istri yang eug yakin punya memori dengan film ini. Gelak tawa mewarnai sepanjang film. Kerasa banget sang pembuat film ingin bernostalgia saat membuat film ini, super fun banget.

Good job-lah buat Sharon Maguire, sang sutradara. Finally, after years film dijejali dengan film so called action-heroes whateverlah, ada juga romcom yang bisa mengaduk-aduk emosi dan membuat kupu-kupu di perut ini menari-nari :p

 

Advertisements

Home Is The Beginning and Ending

13-hours-the-secret-soldiers-of-benghazi

“Kau tak bisa memberi harga pada hari nurani.”

Begitulah salah satu penggalan dialog yang diucapkan oleh Jack Silva, seorang tokoh di film ’13 Hours: Secret Soldiers of Benghazi’. Bagian paling nancep sih karena memang eug suka dengan quote ala-ala gitu :p

No expection at all waktu memutuskan untuk nonton. Hanya membaca beberapa tweet Om Piring di Twitter yang bikin eug penasaran buat nonton. Eug pun nggak tahu sinopsisnya, siapa pemain, atau sutradaranya dan memutuskan untuk nggak mencari tahu sama sekali. Bahkan eug nggak nonton trailernya. Baru pas sehari sebelum nonton, dikasih tahu temen kalo yang main itu John Krasinski. Fix musti nonton sih. Hahaak. Oiya, eug bahkan baru tahu kalau ini true story setelah nonton filmnya. *ampuni aku*

Tapi di sini eug nggak akan mencoba mereview macam reviewer movie terkenal itu. Eug belum mampu. Eug hanya mengamini beberapa hal setelah nonton film ini:

  1. Pria ‘berseragam’ dengan aksesoris kacamata hitam itu keren dan ganteng maksimal. (dengan catatan mereka adalah pasukan elit ya :D)
  2. Selamat tinggal pada kemungkinan punya suami tentara karena eug jadi sadar bahwa eug nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar sana. (kecuali Tuhan menakdirkan, wallahualam)
  3. Eug baru sadar eug suka sekali genre film seperti ini. Perang, militer, mata-mata, daerah konflik, negosiasi yang bisa dibilang film action yang ‘lakik’. Terutama negosiasi dan ‘itung-itungan’ sih. Bagaimana kamu mengeksekusi sesuatu dan harus bertindak cepat dan tepat saat ada masalah. It’s really love to watch this kinda movie. Oh Gosh, I love it! 

Ohyes, eug belum bilang ya kalo eug nonton film dua kali dua hari berturut2. Aseliiikk sesuka itu sama film ini. Hahaa. Setelah cerita sama temen kantor, dia tanya gimana kalo dibanding ‘Sicario’. Hmm… oke jadi begini menurut penonton awam yang nggak jeli-jeli amat kalo nonton ini. Tapi setidaknya eug bisa ngrasain feel masing-masing film.

sicario

Kedua film ini menurut eug bagus. Bangeeeett. Gak bosen nontonnya. Di ‘Sicario’, penonton masih dikasih ‘kesempatan’ buat menikmati sinematografinya yang keren banget. Di tengah ketegangan fim, kita masih dibuat terkagum dengan indahnya pengambilan gambar, tapi tanpa melupakan inti cerita.

Sementara di ’13 Hours: Secret Soldiers of Benghazi’, penonton berhasil dibawa dan larut dalam suasana di sana. Jujur, eug ikutan ngos-ngosan nonton ’13 Hours’ ini. Hahaha. Fasenya to the poin: eksposisi-komplikasi-klimaks-resolusi. Tapi mungkin juga karena film ini setingan waktunya beruntun, 13 jam. Pengambilan gambarnya pun nggak lebay dan ataupun didramatisir seperti ‘Sicario’ yang memang ‘dirancang bagus dan dramatis.’ Di sini, sang DOP benar-benar jenius menggambarkan realita dengan angle ‘seadanya’. Dramanya justru di situ, ditambah dengan gambar drone ‘sederhana’ yang do nothing to help them (f!).

american sniper

Untuk melengkapinya perbandingan ini, akhirnya pun berhasil memaksa diri menyelesaikan nonton film ‘American Sniper’. Perlu diingat bahwa film ini disutradarai Clint Eastwood, salah satu sutradara handal Hollywood. Sama-sama based on true story, tapi eug kurang suka dengan ‘drama’ di tengah-tengah film. Mungkin seharusnya begitu menurut bukunya. Jadi, pas nonton itu kita dibikin naik-turun lagi-naik-turun lagi. Karena saya orangnya simple, I tend to choose the to point one. Hahaha.

Kalau semuanya dirangkum, begini kira-kira:

  • Denis Vileneuve membawa penonton dengan alur yang tegang namun memberi banyak keindahan di tengah film dengan sinematografinya yang bagus banget.
  • Michael Bay berhasil banget membawa penonton berempati dan masuk ke dalam suasana di lokasi. Fasenya tegas, setelah A kemudian B, kemudian C.
  • Clint Eastwood -mungkin sesuai dengan umurnya 😀 – menciptakan fase yang tenang dengan ketegangan yang hanya dijadikan percikan dalam keseluruhan alurnya.

Namun, semuanya punya garis besar. Keterlibatan emosional dengan seseorang (kelompok) lah yang menjadi alasan bagi para ‘hero’di masing-masing film ini untuk melakukan apa yang tergambar dalam film ini. Dan semuanya berawal dari satu hal; home. Setuju? 🙂

Kirab 1000 Apem

Dalam rangka memperingati bulan Safhar, warga RW 11 Gondolayu Lor, Kelurahan Cokrodiningratan, Kecamatan Jetis menyelenggarakan salah satu ritual rutin, yaitu Acara Kirab Budaya Shafaran 1000 Apem. Acara ini diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Iring-iringan kirab yang terdiri dari Gunungan 1000 apem, diikuti pasukan Bergodo Panji Pasembaja, Pasukan Pakaian Hitam, Ibu-ibu berkebaya, rombongan TPA, serta masyarakat umum.

Kirab itu pun melalui rute: Masjid Baitul Hikmah Gondolayu Lor, Jalan Jendral Sudirman, Jalan AM Sangaji, Jalan Wolter Monginsidi, Jalan Magelang, Jalan Diponegoro, dan kembali ke Jalan Sudirman.

Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Walikota Imam Priyono. Imam mengatakan bahwa acara ini merupakan simbol dari kerukunan, kebersamaan, dan silaturahmi antarwarga. Imam menambahkan bahwa acara ini harus terus dilestarikan dan bisa menjadi contoh bagi wilayah lain.

Mengembalikan akun twitter yang di-hack

Pasti kita tak jarang mendengar, ‘Bangkeee, twitter gue dihack’. Menjengkelkan. Mengesalkan. Tapi, kadang-kadang kita nggak tau harus berbuat apa. Dua hari lalu, biasa pas buka timeline, nongol deh akun ganteng @nukman yang meng-RT twit dari Jonru Ginting. Berikut adalah link-nya http://www.jonru.net/cara-mendapatkan-lagi-akun-twitter-saya-yang-kena-hack

Semoga bermanfaat dan tidak ada kasus-kasus hek-hek-an :p