Doa Untuk Negeri

Umur hampir dua dasawarsa. Masa kecil sampai jelang remajaku ada di suatu era bernama Orde Baru. Hingga suatu ketika pecahlah peristiwa bernama ‘Reformasi’ tahun 1998.

Ku yang masih lugu, tak tahu apa-apa kecuali informasi yang ku dapat dari berita di televisi. Belakangan baru ku tahu bahwa di era yg puluhan tahun menguasai Indonesia itu, pers menjadi ‘boneka’ pemerintahan. Begitu seterusnya yang ku pahami sampai kuliah.

Setelah kuliah, baru ku banyak terpapar berbagai sudut pandang tentang kejadian waktu itu. Tak hanya spesifik pada itu, banyak hal yg ku dapatkan sudut pandang baru. Benarlah peribahasa ‘bagai katak dalam tempurung’. Mungkin jika aku nggak nekat kuliah ke lingkungan yang benar-benar baru, ku dengan mudahnya tergabung dalam golongan yang sekarang banyak disebut sebagai ‘sumbu pendek’.

Sepuluh tahun berlalu dari masa awal kuliah, kini ku temui lagi keadaan yang seakan memundurkan langkah Indonesia. To be honest, sejak Jkw naik jadi RI 1 tahun 2014, memang harapan dan semangat untuk melangkah itu ada.

Benar saja, kendati baru 2 tahunan menjabat sudah banyak hal baru yang bisa dinikmati. Yang paling menonjol memang infrastruktur yg penyebarannya tampak lebih merata.

Yang mungkin paling mencolok adalah pembangunan Trans Papua yang banyak orang bilang bagi orang Papua, itu adalah mimpi. Dan sekarang terwujud. :’)

Namun, harapan itu seperti dipatahkan dengan putusan pengadilan negeri Jakut 9 Mei 2017 kepada seorang Basuki Tjahaya Purnama. It’s not about him personally. Sungguh. Ini tentang masa depan bangsa Indonesia 😦

Ternyata Indonesia masih di level seperti yang sekarang. Nyata sekali ada upaya yang dilakukan oleh segelintir pihak hanya demi materi dan kekuasaan.

Banyak sekali yang patah hati di waktu itu. Aku merangkumnya dalam sebuah Moments Twitter (sila dicek di https://twitter.com/i/moments/869060158046978049 ). Namun, banyak juga yang akhirnya menyadari bahwa inilah saatnya untuk bergerak.

Suara yg selama ini hanya terdiam melihat kesewenang-wenangan mulai bergerak. Mungkin memang butuh waktu yang tidak sebentar, tapi optimisme itu harus tetap hidup. Harus tetap menjadi penerang bagi negeri. Seperti cahaya purnama yang bisa menjadi petunjuk di kala gelap.

Tuhan, I love Indonesia so much. Aku ingin melihat negeriku beradab. Aku tak rela jika kembali menjadi jahiliyah. Kuatkan para pemimpin negeri untuk membawa Indonesia ke tempat yang lebih baik. Bukakan pintu hati mereka yang ingin merongrong negeri. Sesungguhnya hanya Engkaulah Sang Pemilik Hidup. Aaaaamiiiiin.

Jakarta, 2/6/17

Advertisements