Menjadi Minoritas

Masa kecil adalah fase yang akan selalu diingat sampai akhir hayat. Seharusnya masa kecil dilewati sebagai masa yang indah. Alhamdulillah, masa kecil eug bahagia, indah, masih sangat melekat dalam ingatan.

Lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara merupakan kota kedua terbesar setelah Medan. Meski hanya sampai usia 6 tahun sebelum pindah ke Magelang, namun begitu banyak hal yang bisa eug pelajari, terutama dalam bermasyarakat.

Keluarga kami termasuk minoritas di sana. Dikelilingi Suku Batak dan juga gereja. Namun, sahabat keluarga kami adalah keluarga pendeta. Nggak pernah ada gesekan isu SARA dalam persahabatan. Kami saling menghormati keyakinan masing-masing.

Malahan, kami sering melakukan kegiatan bersama seperti liburan. Pun Pak Tanggang yang hampir setiap hari mampir¬†ke rumah dan numpang nyuci vespa tuanya. Hahaha. Sering ku siram beliau dengan selang saat beliau lengah menyabuni sang vespa. “Hei, nakal kali kau ya”, begitu katanya setiap ku siram ūüėÄ

Kurasakan kesedihan saat harus berpisah seiring dengan kepindahan kami ke Jawa РMagelang lebih tepatnya. Namun, Pak Tanggang sempat mengunjungi rumah kMagelang saat beliau ada urusan di Jawa. Meski sudah jarang berkomunikasi, tapi hubungan kami tetap baik. Tahun 2013 lalu kami sempat main ke Pematang Siantar dan tak lupa bersua meski hanya sebentar.

Pada pertemuan itu pulak, mereka dengan ringannya memberitahukan sesuatu, “Eh itu anak kami si Sri malah masuk Islam sekarang, ikut suaminya. Sekarang di Jakarta, rumahnya di Jagakarsa.” Tak ada nada kemarahan atau kebencian saat memberitahukan hal tersebut.

They were very fine dengan keputusan anaknya, hanya sedikit khawatir dengan tanggapan dari jamaat gereja Sang Pendeta. Namun, pada akhirnya itu adalah masalah keyakinan, tak bisa dipaksakan. Dan mereka sangat paham hal tersebut. See? Betapa dewasanya lho mereka saat bertoleransi.

Makanya, kalau orang-orang memakai isu-isu agama kaya sekarang, sedih banget lhoo rasanya. Buat eug sih, RECEH banget yaa!! Bahwa beragama atau so called membela agama nggak sesederhana apa yang rangorang lagi banyak omongin akhir-akhir ini. Perilaku kita sehari-hari, hubungan dengan makhluk lain atau habluminannas buat eug sih jauh lebih penting.

Ne kowe ana apa-apa, kowe bakal butuh wong-wong nang sekitarmu sik, sopopun iku timbang keluargamu sik adoh. Jadi, ya maintainlah hubungan dan komunikasi sehari-hari.

Mulailah dari diri sendiri; sayangilah diri sendiri dengan menambah ilmu, rajin-rajin baca. Baca apa aja, lewat e-book, atau berita-berita, tapi mbokya cari yang kredibel. Ambil pelajaran dari setiap interaksi kita dengan orang lain. Bisa dimulai dari menjadi tetangga yang baik di lingkungan rumah. Jadi officemates yang at least tidak menyebalkan jika memang tidak bisa membantu pekerjaan teman.

Bersyukur banget hal-hal beginian eug pelajari salah satunya karna pernah jadi minoritas, ¬†Insyaallah bisa bertoleran karena pernah menjalani kehidupan paling sensitif yang menyangkut isu SARA; ‘Bagiku agamaku, bagimu agamamu’. Aku wae iso, moso kowe ora iso?

 

 

 

Advertisements