Menikmati Hidup tanpa Path

Yhaa~

Sekitar tiga tahun lalu, terseretlah eug ke arus sebuah media sosial, yang konon dirancang bagi para netizen yang menginginkan privasi. Namanya Path. Awalnya dibatasi hanya untuk menampung 150 pertemanan karena berdasar sebuah riset manusia hanya mampu menjaga hubungan baik maksimal dengan 150 orang saja.

Akhirnya eug pun terbawa arus sampai mempunyai sekitar 1,700 moments. Sebenarnya lebih dari itu karena banyak juga yang sudah saya hapus. Awalnya eug sangat menikmati dan benar-benar membatasi teman di bawah 100 orang. Bahkan beberapa teman yang sering bertemu di dunia nyata, tak eug izinkan berteman di Path. Hahaha. Dunno, I just want to keep it private.

So much memorieslah di Path itu. Suka, duka, kode-kodean, joke-joke receh, bahkan beberapa opini dengan topik agak berat ada di Path. Namun, semakin ke sini kok eug sendiri semakin tidak sreg. Lama-lama isinya hanya lagu, share jokes yang hampir 100% eug sudah tahu sebelumnya, check in di tempat-tempat yang sekiranya akan mendapat perhatian. Agak kzl gitu kalo gak dapat satu respon pun. Wk~

Ya, Path lama-lama jadi ajang pamer dan cari perhatian. Baik dari teman-teman ataupun dari gebetan atau pacar misalnya. Iya, bagian yang ini adalah salah satu pengalaman tidak menyenangkan tentang Path. Ehe~

Bisa dibilang kenal pertama di Path, endingnya di situ juga. He used feature ‘unshare’ :)) Dari situ eug mulai merenung. Mungkin eug terlalu caper di Path. Mungkin juga eug menyebalkan bagi teman-teman lain seperti yang dia rasakan.

Sampai akhirnya mulai dari bulan Ramadan 2016, eug mengurangi postingan. Untungnya, eug masih hape yang memorinya terbatas jadi mau gak mau emang musti milih beberapa aplikasi untuk di-uninstall. Hahaha. Barulah setelah Lebaran tahun 2016 ini, eug istiqomah untuk uninstall Path meski sudah ganti hape yang memorinya lebih besar. Hehehe.

Ternyata, it works very well in my life. Alhamdulillah. Terhindar dari rasa ingin pamer dan tahu lebih detil kegiatan teman-teman. Ternyata menyenangkan ya tidak tahu Si A sedang apa atau Si B lagi ada masalah apa. Jokes-jokes yang dishare juga kebanyakan dari Twitter yang notabene, eug sudah lihat sebelumnya. Hahaha. Malah di Twitter selalu ada jokes kalau ada hal baru yang shareable. “Jokes blablabla baru nongol di Path”, begitulah sindir anak-anak Twitter.

Akhirnya eug pribadi memilih untuk hanya (Sangat) aktif di Twitter, Instagram, dan Facebook. Kenapa ketiganya eug pilih? Sesimpel berhubungan dengan pekerjaan. Hehehe.

Dari ketiga media sosial eug rasa cukup untuk tetap kekinian dan yang pasti terbebas dari rasa caper dan ingin pamer. Kalau dibiarkan, kedua rasa ini luaaar biasa nagih lho. Hahaha. takut aja ujungnya Riya’. Ya semoga eug bisa terus istiqomah.

Maybe someday, I will use it again. But, still dunno when and why. 🙂

Advertisements

Bridget Jones’s Baby

Semalam nonton Bridget Jones’s Baby dengan niatan nostalgia sama seperti menonton AADC2 hehehe. Surprisingly filmnya menyenangkan sekali! Ceritanya sih standarlah ala ala romcom, lengkap dengan kebodohan-kebodohan nan kocak yang dilakukan tokoh utama.

Di seri yang kali ini, ceritanya Bridget mendapati dirinya hamil. Masalahnya: siapa bapaknya???!!! Hahaha. As always dia ceroboh having sex dengan selang kurang dari dua minggu saja dengan dua lelaki yang berbeda. Udah gitu, kedua partnernya, alamaaaakk bikin meleleh. *tapi teteup gak kebayang sih kalo itu kejadian di hidup nyata eug 😛

Yang satu adalah mantannya yang masih memesonakan Bridget, Mark Darcy yang masih diperankan oleh Colin Firth. Satunya lagi adalah si ganteng dari Amerika, Jack yang kali ini Patrick Dempsey didapuk jadi pemerannya. Intinya, menentukan siapa Bapaknya dengan segala persaingan di antara keduanya untuk terlihat menjadi calon bapak terbaik di mata Bridget.

bridget-jones-online-image1

Seperti yang sudah-sudah, ada hal yang bisa kita amini dari sebuah film. Dari film ini, eug jadi paham bahwa kembali ke mantan tidak selalu indah. Hilbram Dunar pernah bilang, ya nggak ada yang baru aja kalau kembali yang lama. Terlebih jika yang baru bisa memberikan warna yang baru. Walaupun yang namanya rasa ya nggak bisa bohong apalagi kalau yang lama menanamkan kenangan indah. *halah

Ada satu cuplikan dialog yang diucapkan oleh bapaknya Bridget, “Kejujuran tidak pernah salah”. Benar sekali. Sepahit apapun itu, just go ahead. White lie is not much better. Hanya perlu memilih waktu yang tepat untuk mengatakannya.

All I can say is romantic comedy (romcom) never failed me! Begitupun dengan yang eug rasakan menonton film ini; excited, super happy, dan merasa terhibur sekali. Kebanyakan sih yang nonton emang seumuran eug atau lebih. Banyak juga pasangan suami istri yang eug yakin punya memori dengan film ini. Gelak tawa mewarnai sepanjang film. Kerasa banget sang pembuat film ingin bernostalgia saat membuat film ini, super fun banget.

Good job-lah buat Sharon Maguire, sang sutradara. Finally, after years film dijejali dengan film so called action-heroes whateverlah, ada juga romcom yang bisa mengaduk-aduk emosi dan membuat kupu-kupu di perut ini menari-nari :p