Mengembalikan akun twitter yang di-hack

Pasti kita tak jarang mendengar, ‘Bangkeee, twitter gue dihack’. Menjengkelkan. Mengesalkan. Tapi, kadang-kadang kita nggak tau harus berbuat apa. Dua hari lalu, biasa pas buka timeline, nongol deh akun ganteng @nukman yang meng-RT twit dari Jonru Ginting. Berikut adalah link-nya http://www.jonru.net/cara-mendapatkan-lagi-akun-twitter-saya-yang-kena-hack

Semoga bermanfaat dan tidak ada kasus-kasus hek-hek-an :p

Bing..Bing..Go!

“Gordon Ramsay? Siapa dia?”

“Tanya Mbah Google sih. Hareee geneeee.”

Kira-kira begitulah dialog yang kerap kita dengar ketika ada seseorang tidak mengerti apa yang kita bicarakan, kemudian spontan kita menjawab ‘tanya mbah Google”.

“Mbah Google” yang dimaksud sudah pasti kita tahu, dia adalah mesin pencari Google. Dengan Google, sepertinya tidak mungkin kita tidak menemukan jawaban. Bahkan ada yang bilang, yang bisa menyaingin Google hanyalah Tuhan. Hahaha..

Google sendiri didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin pada 4 September 1998. Saat itu keduanya masih jadi mahasiswa Ph.D di Universitas Stanford. Seperti dikutip dari wikipedia.org, misi Google adalah “mengumpulkan informasi dunia dan membuatnya dapat diakses dan bermanfaat oleh semua orang”, dan slogan tidak resminya adalah “don’t be evil”. Sejak didirikan, Google sudah menghasilkan berbagai produk. Yang paling familiar tentu saja surat elektronik atau email, serta situs Youtube dan Blogger, di samping banyak produk lainnya. Tak hanya software, Google pun mengakuisisi Motorola pada tahun 2012 lalu.

Sebenarnya mesin pencari tak hanya Google. Yang tidak jarang dipakai pula adalah Yahoo dan Bing. Daripada Yahoo, saya sendiri lebih memilih Bing. Entah mengapa. Tapi untuk hal-hal yang tidak terlalu mainstream, Bing lebih memuaskan saya. Contohnya ketika saya menyukai grup penyanyi asal Meksiko, Sin Bandera. Di Google pasti ada, tapi apa yang saya temukan di Bing lebih anti mainstream istilahnya.

Bing juga memuaskan saya untuk pencarian gambar. Begini, bukan berarti gambar tersebut tak ada di Google, tapi pencarian di Google pada halaman belakang biasanya akan tampil di halaman depan di Bing. Hal ini terkait dengan letak geografis.

Fyi, Bing ini kepunyaan Microsoft, dan baru diluncurkan empat tahun lalu, yaitu 1 Juni 2009. Bing ini sebelumnya Live Search, Windows Search, dan MSN Search. Bing dilengkapi dengan kemampuan untuk menyimpan dan berbagi historis pencarian lewat Skydrive, Facebook, dan email. Oya, satu lagi, saya suka tampilan Bing. Terutama background halaman utamanya. Fotonya keren-keren!! 😀

Tampilan halaman depan Bing.com

Gambar

 

Gambar

Tapi sejauh ini, saya tetap memakai Google untuk keseharian saya. Lebih user friendly, banyak fitur seperti Google document yang bisa gunakan untuk menyimpan data. Dan masih banyak lagi fitur yang kalau mau bisa kita gunakan. Tapi kalau hanya untuk pencarian standar, Google sudah cukup memuaskan. J

easy come, easy go..

Jurnalisme dan online. Dua kata yang tidak bisa dipisahkan pada zaman sekarang ini. Betapa mudahnya netizen (istilah untuk pengguna internet), mendapat berita atau bahkan mengunggah cerita atau kejadian yang mempunyai news value sehingga bisa disebut berita. Tak jarang kita menamainya citizen journalism.

Perkembangan jurnalistik di ranah online bahkan bisa dibilang lebih cepat dari pertumbuhan jamur di musim hujan. Berita apa pun bisa diketahui hanya dalam hitungan detik. Terlepas apakah berita itu bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Yang penting naik dulu beritanya dan mengejar ‘klik’. Itulah yang terjadi sekarang. Meski Indonesia termasuk dalam negara yang kecepatan internetnya masih lemot, tapi berita dari Indonesia pun pernah atau bahkan tak jarang menjadi headline internasional setidaknya untuk kawasan ASEAN atau Asia Pasifik.

Kita bisa mengambil kasus korupsi yang melibatkan Akil Mohtar, ketua Mahkamah Konstitusi, yaitu lembaga tertinggi negara Indonesia. Tak terelakkan reaksi kalangan pers nasional bahkan internasional yang menjadikan berita ini sebagai headline. Baik di edisi cetak atau pun edisi online mereka.

Akil memang membuat sebuah sensasi. Sebagai ketua dari sebuah lembaga mendapat kepercayaan publik yang tinggi, di samping KPK, tentu berita ini menjadi sumber berita yang bagus sekaligus tamparan bagi bangsa Indonesia. Di saat Indonesia sedang gencar-gencarnya menciptakan citra bangsa sebagai bangsa antikorupsi, penemuan ini bagai buah dua sisi mata uang. Di satu sisi, kita bangga bahwa KPK sudah berani menyentuh salah satu lembaga tertinggi, tapi di satu sisi menimbulkan kesedihan karena ternyata korupsi pun menjamah lembaga hukum tertinggi negara.

Dengan semakin canggihnya jurnalisme online, tentu bangsa Indonesia tidak bisa begitu saja menampik berita-berita negatif dari kasus ini. Bukan tak mungkin tingkat kepercayaan luar negeri akan semakin berkurang.

Tapi, menurut saya justru di sinilah tantangan kita dalam bidang jurnalisme online. Dengan semakin mudahnya arus berita diterima masyarakat, baik berita yang bisa dipertanggungjawabkan mau pun yang tidak, kita bisa memanfaatkan jurnalisme online untuk membuat counter issue. Banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mengklarifikasi. Saya ambil contoh kasus poligami yang menimpa Ketua Komisi Penyiaran Indonesia periode pertama, Ade Armando. Kasus ini terjadi sekitar tahun 2007-2008.

Saat berita poligami Ade Armando tersebar luas, serangan demi serangan masuk ke situs blog pribadi milik Ade Armando. Ade pun mengambil jalan dengan tidak menanggapi dulu atau sementara menghilang dari dunia maya. Sekitar tiga bulan kemudian, Ade Armando membuat klarifikasi terhadap berita tersebut. Tapi dia meminjam blog milik temannya untuk mengklarifikasi berita tersebut.

Tapi dunia maya itu seperti istilah ‘people come and go’. Tak ada berita yang benar-benar bertahan dalam waktu yang lama. Memang orang mudah mengetahui berita dari online, tapi semudah itu pula mereka lupa. Ah manusia… J