I love you, Mamak & Papih ❤

Hari ke 28 Ramadan 1438 H. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan bertemu dengan bulan spesial, Ramadan ❤

Tak ada yang terlalu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Malah, ibadah pendamping macam tarawihnya blang bentong. Sad 😔

Tapi, namanya hidup harus ada progress entah seberapa besar dari sisi mana aja. Begitupun prinsipku. Bisa dibilang, Ramadan tahun ini adalah titik balik dari apa yang terjadi lima tahun belakangan. 

I would not tell you what happened. But, this is something I could not erased yet I learned alot from it. Tentang kehilangan dan mengikhlaskan.

Akhirnya, aku merasa berhasil memenangkan pertarungan dengan setan. Bukan hal yang mudah. Tidak pernah mudah. Tapi, ada di satu titik aku sangat takut kehilangan orang tua. Aku ingin berkumpul bersama mereka di dunia dan akhirat.

Pak Quraish bilang bahwa di akhirat kita akan berkumpul dengan yang kita cintai. And I love my parents so much. Di situlah, kau akan bisa mengikhlaskan apapun untuk satu tujuan itu, termasuk melepaskan sesuatu yang kau rasa kau cintai dengan sangat.

Entahlah berapa banyak dosaku sama orang tua. Umurku makin berkurang, pun dengan mereka. I just wanna give them the best I can. Forgive me, Mamak for everything I’ve done. Thank you for your unconditional love and pray.

This is the right time to give as good as I got from you. I hope this is not too late. I love you, mampap ❤

Budaya ‘Jangan Show Off’

‘Temen diskusi itu penting.’ Begitulah quote yang muncul dalam percakapanku dengan Jeje.

Termasuk memperbincangkan salah satu topik yang pernah diangkat oleh Mba Keinesasih dalam akun Twitternya @keinesasih . Saat itu dia mengutarakan pendapatnya bahwa di Indonesia ini ada suatu budaya yang ‘mengucilkan’ anak yang pintar. 

Menjadi cerdas, dengan salah satu indikasinya menjadi rajin bertanya pada suatu forum (misal ruang kelas) adalah tidak ‘sopan’. Memperlihatkan kecerdasan adalah tabu, dalam budaya yang menjunjung sopan santun. Konon.

Namun, ternyata hal seperti ini juga berlaku pada yang lainnya. Singkat cerita, aku membicarakan budaya di kota kecil yang ‘membatasi’ anak yang berada (bahasa gaulnya tajir) untuk menunjukkan kemampuan finansialnya dengan memakai barang-barang mahal atau bermerek. 

Memakai barang mahal di belantara lingkungan yang marginal menjadi aneh dan cenderung untuk ‘dimusuhi’. Kesulitan lainnya adalah mencari teman yang tulus. Dalam benak anak-anak tajir ini, ada pikiran ‘takut dimanfaatkan’ oleh teman-temannya yang berstatus ekonomi lebih rendah jika dia memperlihatkan standarnya. Mengendarai mobil saja ‘ngumpet-ngumpet’ jika di kota kecil. 

Barulah di kota besar seperti Jakarta, hal ini jarang terjadi. Secara penampilan, khalayak tidak bisa semudah itu menebak status ekonomi seseorang di sini. Dan menjadi berbeda di kota besar adalah hal biasa. Bahkan jika kamu tajir melintir, akan tetap bisa mendapat teman-teman yang tulus yang tak pandang status ekonomi.

Yang bisa ditarik adalah budaya ‘jangan show off’ memang masih kental di Indonesia. Sesuatu yang menghambat kemajuan ku rasa. Sedikit banyak berpengaruh pada penghargaan terhadap orang lain. Oh iya, baru ngeh.. nggak usahlah bicara soal keberagaman yang lebih besar kalo hal sesederhana ini masih bisa menjadi jurang ketimpangan :p 

Doa Untuk Negeri

Umur hampir dua dasawarsa. Masa kecil sampai jelang remajaku ada di suatu era bernama Orde Baru. Hingga suatu ketika pecahlah peristiwa bernama ‘Reformasi’ tahun 1998.

Ku yang masih lugu, tak tahu apa-apa kecuali informasi yang ku dapat dari berita di televisi. Belakangan baru ku tahu bahwa di era yg puluhan tahun menguasai Indonesia itu, pers menjadi ‘boneka’ pemerintahan. Begitu seterusnya yang ku pahami sampai kuliah.

Setelah kuliah, baru ku banyak terpapar berbagai sudut pandang tentang kejadian waktu itu. Tak hanya spesifik pada itu, banyak hal yg ku dapatkan sudut pandang baru. Benarlah peribahasa ‘bagai katak dalam tempurung’. Mungkin jika aku nggak nekat kuliah ke lingkungan yang benar-benar baru, ku dengan mudahnya tergabung dalam golongan yang sekarang banyak disebut sebagai ‘sumbu pendek’.

Sepuluh tahun berlalu dari masa awal kuliah, kini ku temui lagi keadaan yang seakan memundurkan langkah Indonesia. To be honest, sejak Jkw naik jadi RI 1 tahun 2014, memang harapan dan semangat untuk melangkah itu ada.

Benar saja, kendati baru 2 tahunan menjabat sudah banyak hal baru yang bisa dinikmati. Yang paling menonjol memang infrastruktur yg penyebarannya tampak lebih merata.

Yang mungkin paling mencolok adalah pembangunan Trans Papua yang banyak orang bilang bagi orang Papua, itu adalah mimpi. Dan sekarang terwujud. :’)

Namun, harapan itu seperti dipatahkan dengan putusan pengadilan negeri Jakut 9 Mei 2017 kepada seorang Basuki Tjahaya Purnama. It’s not about him personally. Sungguh. Ini tentang masa depan bangsa Indonesia 😦

Ternyata Indonesia masih di level seperti yang sekarang. Nyata sekali ada upaya yang dilakukan oleh segelintir pihak hanya demi materi dan kekuasaan.

Banyak sekali yang patah hati di waktu itu. Aku merangkumnya dalam sebuah Moments Twitter (sila dicek di https://twitter.com/i/moments/869060158046978049 ). Namun, banyak juga yang akhirnya menyadari bahwa inilah saatnya untuk bergerak.

Suara yg selama ini hanya terdiam melihat kesewenang-wenangan mulai bergerak. Mungkin memang butuh waktu yang tidak sebentar, tapi optimisme itu harus tetap hidup. Harus tetap menjadi penerang bagi negeri. Seperti cahaya purnama yang bisa menjadi petunjuk di kala gelap.

Tuhan, I love Indonesia so much. Aku ingin melihat negeriku beradab. Aku tak rela jika kembali menjadi jahiliyah. Kuatkan para pemimpin negeri untuk membawa Indonesia ke tempat yang lebih baik. Bukakan pintu hati mereka yang ingin merongrong negeri. Sesungguhnya hanya Engkaulah Sang Pemilik Hidup. Aaaaamiiiiin.

Jakarta, 2/6/17

Menjadi Minoritas

Masa kecil adalah fase yang akan selalu diingat sampai akhir hayat. Seharusnya masa kecil dilewati sebagai masa yang indah. Alhamdulillah, masa kecil eug bahagia, indah, masih sangat melekat dalam ingatan.

Lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara merupakan kota kedua terbesar setelah Medan. Meski hanya sampai usia 6 tahun sebelum pindah ke Magelang, namun begitu banyak hal yang bisa eug pelajari, terutama dalam bermasyarakat.

Keluarga kami termasuk minoritas di sana. Dikelilingi Suku Batak dan juga gereja. Namun, sahabat keluarga kami adalah keluarga pendeta. Nggak pernah ada gesekan isu SARA dalam persahabatan. Kami saling menghormati keyakinan masing-masing.

Malahan, kami sering melakukan kegiatan bersama seperti liburan. Pun Pak Tanggang yang hampir setiap hari mampir ke rumah dan numpang nyuci vespa tuanya. Hahaha. Sering ku siram beliau dengan selang saat beliau lengah menyabuni sang vespa. “Hei, nakal kali kau ya”, begitu katanya setiap ku siram 😀

Kurasakan kesedihan saat harus berpisah seiring dengan kepindahan kami ke Jawa – Magelang lebih tepatnya. Namun, Pak Tanggang sempat mengunjungi rumah kMagelang saat beliau ada urusan di Jawa. Meski sudah jarang berkomunikasi, tapi hubungan kami tetap baik. Tahun 2013 lalu kami sempat main ke Pematang Siantar dan tak lupa bersua meski hanya sebentar.

Pada pertemuan itu pulak, mereka dengan ringannya memberitahukan sesuatu, “Eh itu anak kami si Sri malah masuk Islam sekarang, ikut suaminya. Sekarang di Jakarta, rumahnya di Jagakarsa.” Tak ada nada kemarahan atau kebencian saat memberitahukan hal tersebut.

They were very fine dengan keputusan anaknya, hanya sedikit khawatir dengan tanggapan dari jamaat gereja Sang Pendeta. Namun, pada akhirnya itu adalah masalah keyakinan, tak bisa dipaksakan. Dan mereka sangat paham hal tersebut. See? Betapa dewasanya lho mereka saat bertoleransi.

Makanya, kalau orang-orang memakai isu-isu agama kaya sekarang, sedih banget lhoo rasanya. Buat eug sih, RECEH banget yaa!! Bahwa beragama atau so called membela agama nggak sesederhana apa yang rangorang lagi banyak omongin akhir-akhir ini. Perilaku kita sehari-hari, hubungan dengan makhluk lain atau habluminannas buat eug sih jauh lebih penting.

Ne kowe ana apa-apa, kowe bakal butuh wong-wong nang sekitarmu sik, sopopun iku timbang keluargamu sik adoh. Jadi, ya maintainlah hubungan dan komunikasi sehari-hari.

Mulailah dari diri sendiri; sayangilah diri sendiri dengan menambah ilmu, rajin-rajin baca. Baca apa aja, lewat e-book, atau berita-berita, tapi mbokya cari yang kredibel. Ambil pelajaran dari setiap interaksi kita dengan orang lain. Bisa dimulai dari menjadi tetangga yang baik di lingkungan rumah. Jadi officemates yang at least tidak menyebalkan jika memang tidak bisa membantu pekerjaan teman.

Bersyukur banget hal-hal beginian eug pelajari salah satunya karna pernah jadi minoritas,  Insyaallah bisa bertoleran karena pernah menjalani kehidupan paling sensitif yang menyangkut isu SARA; ‘Bagiku agamaku, bagimu agamamu’. Aku wae iso, moso kowe ora iso?

 

 

 

Menikmati Hidup tanpa Path

Yhaa~

Sekitar tiga tahun lalu, terseretlah eug ke arus sebuah media sosial, yang konon dirancang bagi para netizen yang menginginkan privasi. Namanya Path. Awalnya dibatasi hanya untuk menampung 150 pertemanan karena berdasar sebuah riset manusia hanya mampu menjaga hubungan baik maksimal dengan 150 orang saja.

Akhirnya eug pun terbawa arus sampai mempunyai sekitar 1,700 moments. Sebenarnya lebih dari itu karena banyak juga yang sudah saya hapus. Awalnya eug sangat menikmati dan benar-benar membatasi teman di bawah 100 orang. Bahkan beberapa teman yang sering bertemu di dunia nyata, tak eug izinkan berteman di Path. Hahaha. Dunno, I just want to keep it private.

So much memorieslah di Path itu. Suka, duka, kode-kodean, joke-joke receh, bahkan beberapa opini dengan topik agak berat ada di Path. Namun, semakin ke sini kok eug sendiri semakin tidak sreg. Lama-lama isinya hanya lagu, share jokes yang hampir 100% eug sudah tahu sebelumnya, check in di tempat-tempat yang sekiranya akan mendapat perhatian. Agak kzl gitu kalo gak dapat satu respon pun. Wk~

Ya, Path lama-lama jadi ajang pamer dan cari perhatian. Baik dari teman-teman ataupun dari gebetan atau pacar misalnya. Iya, bagian yang ini adalah salah satu pengalaman tidak menyenangkan tentang Path. Ehe~

Bisa dibilang kenal pertama di Path, endingnya di situ juga. He used feature ‘unshare’ :)) Dari situ eug mulai merenung. Mungkin eug terlalu caper di Path. Mungkin juga eug menyebalkan bagi teman-teman lain seperti yang dia rasakan.

Sampai akhirnya mulai dari bulan Ramadan 2016, eug mengurangi postingan. Untungnya, eug masih hape yang memorinya terbatas jadi mau gak mau emang musti milih beberapa aplikasi untuk di-uninstall. Hahaha. Barulah setelah Lebaran tahun 2016 ini, eug istiqomah untuk uninstall Path meski sudah ganti hape yang memorinya lebih besar. Hehehe.

Ternyata, it works very well in my life. Alhamdulillah. Terhindar dari rasa ingin pamer dan tahu lebih detil kegiatan teman-teman. Ternyata menyenangkan ya tidak tahu Si A sedang apa atau Si B lagi ada masalah apa. Jokes-jokes yang dishare juga kebanyakan dari Twitter yang notabene, eug sudah lihat sebelumnya. Hahaha. Malah di Twitter selalu ada jokes kalau ada hal baru yang shareable. “Jokes blablabla baru nongol di Path”, begitulah sindir anak-anak Twitter.

Akhirnya eug pribadi memilih untuk hanya (Sangat) aktif di Twitter, Instagram, dan Facebook. Kenapa ketiganya eug pilih? Sesimpel berhubungan dengan pekerjaan. Hehehe.

Dari ketiga media sosial eug rasa cukup untuk tetap kekinian dan yang pasti terbebas dari rasa caper dan ingin pamer. Kalau dibiarkan, kedua rasa ini luaaar biasa nagih lho. Hahaha. takut aja ujungnya Riya’. Ya semoga eug bisa terus istiqomah.

Maybe someday, I will use it again. But, still dunno when and why. 🙂

Bridget Jones’s Baby

Semalam nonton Bridget Jones’s Baby dengan niatan nostalgia sama seperti menonton AADC2 hehehe. Surprisingly filmnya menyenangkan sekali! Ceritanya sih standarlah ala ala romcom, lengkap dengan kebodohan-kebodohan nan kocak yang dilakukan tokoh utama.

Di seri yang kali ini, ceritanya Bridget mendapati dirinya hamil. Masalahnya: siapa bapaknya???!!! Hahaha. As always dia ceroboh having sex dengan selang kurang dari dua minggu saja dengan dua lelaki yang berbeda. Udah gitu, kedua partnernya, alamaaaakk bikin meleleh. *tapi teteup gak kebayang sih kalo itu kejadian di hidup nyata eug 😛

Yang satu adalah mantannya yang masih memesonakan Bridget, Mark Darcy yang masih diperankan oleh Colin Firth. Satunya lagi adalah si ganteng dari Amerika, Jack yang kali ini Patrick Dempsey didapuk jadi pemerannya. Intinya, menentukan siapa Bapaknya dengan segala persaingan di antara keduanya untuk terlihat menjadi calon bapak terbaik di mata Bridget.

bridget-jones-online-image1

Seperti yang sudah-sudah, ada hal yang bisa kita amini dari sebuah film. Dari film ini, eug jadi paham bahwa kembali ke mantan tidak selalu indah. Hilbram Dunar pernah bilang, ya nggak ada yang baru aja kalau kembali yang lama. Terlebih jika yang baru bisa memberikan warna yang baru. Walaupun yang namanya rasa ya nggak bisa bohong apalagi kalau yang lama menanamkan kenangan indah. *halah

Ada satu cuplikan dialog yang diucapkan oleh bapaknya Bridget, “Kejujuran tidak pernah salah”. Benar sekali. Sepahit apapun itu, just go ahead. White lie is not much better. Hanya perlu memilih waktu yang tepat untuk mengatakannya.

All I can say is romantic comedy (romcom) never failed me! Begitupun dengan yang eug rasakan menonton film ini; excited, super happy, dan merasa terhibur sekali. Kebanyakan sih yang nonton emang seumuran eug atau lebih. Banyak juga pasangan suami istri yang eug yakin punya memori dengan film ini. Gelak tawa mewarnai sepanjang film. Kerasa banget sang pembuat film ingin bernostalgia saat membuat film ini, super fun banget.

Good job-lah buat Sharon Maguire, sang sutradara. Finally, after years film dijejali dengan film so called action-heroes whateverlah, ada juga romcom yang bisa mengaduk-aduk emosi dan membuat kupu-kupu di perut ini menari-nari :p

 

Home Is The Beginning and Ending

13-hours-the-secret-soldiers-of-benghazi

“Kau tak bisa memberi harga pada hari nurani.”

Begitulah salah satu penggalan dialog yang diucapkan oleh Jack Silva, seorang tokoh di film ’13 Hours: Secret Soldiers of Benghazi’. Bagian paling nancep sih karena memang eug suka dengan quote ala-ala gitu :p

No expection at all waktu memutuskan untuk nonton. Hanya membaca beberapa tweet Om Piring di Twitter yang bikin eug penasaran buat nonton. Eug pun nggak tahu sinopsisnya, siapa pemain, atau sutradaranya dan memutuskan untuk nggak mencari tahu sama sekali. Bahkan eug nggak nonton trailernya. Baru pas sehari sebelum nonton, dikasih tahu temen kalo yang main itu John Krasinski. Fix musti nonton sih. Hahaak. Oiya, eug bahkan baru tahu kalau ini true story setelah nonton filmnya. *ampuni aku*

Tapi di sini eug nggak akan mencoba mereview macam reviewer movie terkenal itu. Eug belum mampu. Eug hanya mengamini beberapa hal setelah nonton film ini:

  1. Pria ‘berseragam’ dengan aksesoris kacamata hitam itu keren dan ganteng maksimal. (dengan catatan mereka adalah pasukan elit ya :D)
  2. Selamat tinggal pada kemungkinan punya suami tentara karena eug jadi sadar bahwa eug nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar sana. (kecuali Tuhan menakdirkan, wallahualam)
  3. Eug baru sadar eug suka sekali genre film seperti ini. Perang, militer, mata-mata, daerah konflik, negosiasi yang bisa dibilang film action yang ‘lakik’. Terutama negosiasi dan ‘itung-itungan’ sih. Bagaimana kamu mengeksekusi sesuatu dan harus bertindak cepat dan tepat saat ada masalah. It’s really love to watch this kinda movie. Oh Gosh, I love it! 

Ohyes, eug belum bilang ya kalo eug nonton film dua kali dua hari berturut2. Aseliiikk sesuka itu sama film ini. Hahaa. Setelah cerita sama temen kantor, dia tanya gimana kalo dibanding ‘Sicario’. Hmm… oke jadi begini menurut penonton awam yang nggak jeli-jeli amat kalo nonton ini. Tapi setidaknya eug bisa ngrasain feel masing-masing film.

sicario

Kedua film ini menurut eug bagus. Bangeeeett. Gak bosen nontonnya. Di ‘Sicario’, penonton masih dikasih ‘kesempatan’ buat menikmati sinematografinya yang keren banget. Di tengah ketegangan fim, kita masih dibuat terkagum dengan indahnya pengambilan gambar, tapi tanpa melupakan inti cerita.

Sementara di ’13 Hours: Secret Soldiers of Benghazi’, penonton berhasil dibawa dan larut dalam suasana di sana. Jujur, eug ikutan ngos-ngosan nonton ’13 Hours’ ini. Hahaha. Fasenya to the poin: eksposisi-komplikasi-klimaks-resolusi. Tapi mungkin juga karena film ini setingan waktunya beruntun, 13 jam. Pengambilan gambarnya pun nggak lebay dan ataupun didramatisir seperti ‘Sicario’ yang memang ‘dirancang bagus dan dramatis.’ Di sini, sang DOP benar-benar jenius menggambarkan realita dengan angle ‘seadanya’. Dramanya justru di situ, ditambah dengan gambar drone ‘sederhana’ yang do nothing to help them (f!).

american sniper

Untuk melengkapinya perbandingan ini, akhirnya pun berhasil memaksa diri menyelesaikan nonton film ‘American Sniper’. Perlu diingat bahwa film ini disutradarai Clint Eastwood, salah satu sutradara handal Hollywood. Sama-sama based on true story, tapi eug kurang suka dengan ‘drama’ di tengah-tengah film. Mungkin seharusnya begitu menurut bukunya. Jadi, pas nonton itu kita dibikin naik-turun lagi-naik-turun lagi. Karena saya orangnya simple, I tend to choose the to point one. Hahaha.

Kalau semuanya dirangkum, begini kira-kira:

  • Denis Vileneuve membawa penonton dengan alur yang tegang namun memberi banyak keindahan di tengah film dengan sinematografinya yang bagus banget.
  • Michael Bay berhasil banget membawa penonton berempati dan masuk ke dalam suasana di lokasi. Fasenya tegas, setelah A kemudian B, kemudian C.
  • Clint Eastwood -mungkin sesuai dengan umurnya 😀 – menciptakan fase yang tenang dengan ketegangan yang hanya dijadikan percikan dalam keseluruhan alurnya.

Namun, semuanya punya garis besar. Keterlibatan emosional dengan seseorang (kelompok) lah yang menjadi alasan bagi para ‘hero’di masing-masing film ini untuk melakukan apa yang tergambar dalam film ini. Dan semuanya berawal dari satu hal; home. Setuju? 🙂